Perpaduan Antara Tangga Nada, Laras dan Jalua

Friday, November 16th, 2012 - Artikel Okeshared

Mengenang Sebuah karya seni Musik “Asimilasi” Secara maknawi

” Sifat dasar sebuah karya seni sejati senantiasa kreatif. ini berarti bahwa seni sebagai rangkaian perbuatan manusia selalu menciptakan realita baru, yakni sesuatu apapun yang tadinya belumnya terdapat atau terlintas dalam kesadaran sesorang (the Liang 1976, 80)”"”

(Perpaduan Antara Tangga Nada, Laras dan jalua) Tangga nada dikenal sebagai urutan nada-nada (dari nada yang rendah sampai kenada yang tinggi), biasanya digunakan pada musik dia tonis Ia sering dikenal dengan istilah do (1), re (1),mi (3),fa (4),so(5), la (6),si (7),do (i)

Laras dikenal sebagai urutan nada-nada yang digunakan pada gamelan yaitu : laras pelok dan salendro.

Menurut Yusuf Rahman salah seorang (seniman Minangkabau), bahwa jalua adalah urutan nada-nada dalam musik tradisi Minangkabau. Dua buah jalua yang biasa disebuat ialah jalua darek dan jalua bukik.

Permasalahan ini dapat di temui dalam sebuah komposisi musik ” Asimilasi” karya Yusbar Djaelani. adalah sebuah karya musik yang memadukan musik tradisi Minangkabau dengan gamelan (musik tradisi jawa) dan musik Barat ( musik diatonis), perpaduan dalam musik itu pada hakikatnya adalah. Perpaduan nada-nada yang tersusun dalam rangkaian jalua , laras dan tangga nada itu.

Uraian diats merupakan jawaban dari pertanyaan yang selalu dilontarkan oleh filsafat keindahan yang berbunyi Karya seni itu mengenai apa ? jawaban dari pertanyaan tersebut merupakan subject matter dari karya seni itu. perpaduan nada-nada dari tiga sistem dan medium musik yang berbeda inilah subject matter ( Pokok Persoalan) yang ada didalam karya seni musik” Asimilasi

Jurnal PALANTA Seni budaya ASKI Padangpanjang /97

Advertisement
Perpaduan Antara Tangga Nada, Laras dan Jalua | okeshared | 4.5